
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatu.......
Tak dipungkiri,banyak orang mendambakan bahwa setelah membangun rumah tangga ekonomi semakin mapan,atau bahkan berharap untuk bisa kaya raya.Memang sah-sah saja seseorang memiliki cita-cita untuk menjadi orang kaya karna sisi cela bukan terletak pada harta,tetapi kesalahan yang terletak pada orang yang mengelolanya.
#Kaya itu Perlu
harta dimata orang yang berilmu adalah sarana yang dengannya ia hendak melampaui orang lain dalam hal takwa dan amal shaleh.Kita pantar iri dengan orang ini,iri untuk menjadi seperti dia,memiliki harta namun menggunakan hartanya sesuai dengan ilmunya.Sikap ini telah diambil oleh generasi pendahulu kita yang ulama,murid-murid dari guru besar para da'i,Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah dalam shahihain ; Orang-orang fakir dari kalangan muhajirin mendatangi Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sembari berkata ; "Wahai Rasulullah,orang-orang yang kaya mendapatkan derajat yang tinggi dan nikmat yang melimpah (dalam riwayat lain;orang-orang kaya memborong pahala).Nabi bertanya ; "Mengapa demikian.?" Mereka menjawab ;"Mereka shalat sebagaimana kami shalat,mereka shaum sebagaimana kami shaum,sedang mereka bisa bersedekah dengan kelebihan harta mereka,sedangkan kami tidak,mereka mampu memerdekakan budak ,sedangkan kami tidak.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam Bersabda ;" Maukah aku ajarkan kepada kalian suatu amalan yang dengannya kalian mampu menyusul keutamaan orang-orang yang tekah didepan kalian dan kalian lebih unggul dari orang-orang yang ada dibelakang kalian,tiada seorangpun yang mengungguli kalian kecuali mereka yang beramal dengan apa ayng kalian amalkan?" Dengan penuh antusias mereka menjawab ;"Mau wahai Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam".Beliau bersabda ; "Hendaklah kalian bertasbih,bertakbir dan bertahmid setelah selesai shalat wajib masing-masing 33 kali."
Merekapun kembali dengan suka cita,berharap mampu menggungguli amal orang-orang yang kaya.Abu shalih yang mendengar riwayat ini dari Abu Hurairah berkata ; " Tak lama kemudian orang-orang fakir dari golongan muhajirin kembali kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan berkata, "Saudara-saudara kami dari golongan orang kaya mendengar apa yang kami amalkan (sebagaimana yang engkau ajarkan kepada kami dahulu),lalu mereka mengamalkan apa yang kami amalakan." Begitulah,orang-orang kaya juga tidak mau kalah dari orang-orang yang kurang mampu dalam urusan amal shaleh.Mendengar hal itu nabi bersabda ;"Itulah Karunia Allah,Dia memberikan kepada siap saja yang Dia kehendaki.".
# Ingin kaya ...? Boleh, Tapi.......
Rata-rata setiap orang pernah berangan-angan menjadi orang kaya. Memiliki mobil,rumah mewah,harta yang berlimpah.Yang terbayang serba "wah" dan indah.Padahal tak selalunya harta membawa kepuasan dan kenikmatan,banyak jiwa terjajah meski jasad kelihatan gagah,ruh kelaparan ditengah timbunan harta kekayaan,nafsu kehausan mimpikan angan,sedang emas permata telah berada ditangan,harta tak selalunya mendatangkan kepuasan.
Ada orang yang dulunya masih hidup terasa susah,ekonomi pas-pas an,kerja harus banting tulang dan perah keringat,mungkin orang berfikir jika nantinya hidup telah mapan,ia akan istirahat.Kelak akan memfokuskan perhatian untuk ibadah.Padahal Tabiat dunia yang diburu bukanlah demikian.Ketika sebagian dunia telah teraih,bagian lain akan bersolek mempercantik diri hingga orang pun akan berhasrat untuk merengkuh segala pesona yang dimilikinya.
Orang tak pernah terpuaskan meski telah mendapat jatah terbesar dalam perolehan dunia,seandainya manusia memiliki satu ladang yang penuh dengan emas,niscaya akan memburu ladang yang kedua,ketiga,dan seterusnya.
kesibukan untuk meraup dunia sebesar-besarnya ini,umumnya menyebabkan manusia lupa tugas utamanya sebagai hamba Allah,bahwa dia diciptakan bukan untuk menetap di dunia.Adam diturunkan ke dunia bukanlah untuk bertamasya,bahkan untuk menebus dosa.Bahwa dunia hanyalah jalan semata,menuju Jannah/Neraka.
Semakin gigih perburuan terhadap dunia dan perlombaan perburuan harta membuat manusia terlena,bahwa kematian bisa datang tiba-tiba.Ajal datang disaat dia merasa nyaris meraih angannya,untuk menyandang gelar terkaya,termegah,ter"WAH",tersukses.namun yang ditemui adalah dampratan. Dalam Al-Qur'an disebutkan ;
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ, حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ
Artinya;
"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,sampai kamu masuk kedalam kubur" ( QS.At-Takatsur; 1-2 ).
Kondisi inilah yang dikhawatirkan oleh ,Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam,disaat melimpahnya harta justru berpotensi mendatangkan petaka,racun yang dibawanya jauh lebih berbahaya dari kefakiran dan miskin harta.Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda : "Demi Allah,bukan kefakiran yang aku khawatirkan terjadi atas kalian.Akan tetapi yang aku khawatirkan adalah ketika dunia dihamparkan atas kalian sebagaimana dihamparkannya dunia bagi orang-orang sebelum kalian.Lalu kalian akan saling berlomba memperebutkannya sebagaimana mereka telah berlomba-lomba.Lalu kalian akan binasa sebagaimana mereka binasa." ( HR.Bukhari )
# Menjadi Sombong Karenanya
Pada tingkatan perolehan dunia tertentu,manusia masih tamak untuk meraih yang lebih dari apa yang telah ada ditangannya.Disisi lain,sikap terhadap orang yang levelnya berada dibawah statusnya mulai berubah.Angkuh,merasa diri lebih,merasa diri telah berkecukupan,bahkan merasa tidak butuh lagi dengan norma agama yang mungkin disangkanya sebagai kendala untuk meraih obsesinya.Seruan juru dakwah yang menyeru ke jalan Allah pun tak ditanggapinya,terlebih jika sang da'i tidak memiliki status sosial yang tinggi dan dari golongan menengah kebawah.Sikap sinis amat nampak pada diri mereka,inilah watak kebanyakan orang kaya,kecuali yang dirahmati Allah ;
وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ
Artinya ;
"Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya".
Maka hendaknya orang yang berharta takut jika dengan hartanya membuatnya terpedaya,berpaling dari mempelajri agama dan mengamalkannya,atau malu memasuki masjid karna pengunjungnya rata-rata kalangan menengah kebawah.Inilah petaka yang besar bagi orang yang berharta.
# Tak Pedulu Cara Mendapatkannya
Perlombaan menimbun harta yang dilakukan manusia yang tipis imannya,berlanjut pada efek yang lebih tragis,kebanyakan peserta lomba tidak bermain secara sportif.ingin menang dengan segala cara meski dengan sikut sana,sikut sini,tak pedulu dengan aturan yang telah diterapkan dalam agama,toh dia merasa tidak butuh dengan aturan sang Pencipta.Fenomena menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta makin nyata didepan mata.Persis,seperti yang telah dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam :
"Sesungguhnya akan datang atas manusia,suatu zaman dimana orang tidak peduli dengan cara apa dia mendapatkan harta,apakah dari yang halal,ataukah yang haram."
Korupsi menjadi tradisi,kolusi,menjadi hobi,riba dianggap biasa dan praktik merampas hak orang lain dengan tipu daya meraja lela.Yang penting keinginan terpenuhi,kebutuhan makan tercukupi,hutang tertutupi dan bensin mobil full terisi.
Padahal makan yang masuk kedalam tubuh ibarat bibit yang ditanamkan di perut bumi.Jika yang masuk adalah harta yang haram,maka apa yang dihasilkan oleh tubuh berupa aktifitas dan perbuatan juga berupa tindakan yang haram,Sehingga Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda ; "Daging yang tumbuh dari barang yang haram,neraka adalah layak baginya." Disamping,kecerobohan dalam mencari ma'isyah itu akan berubah mandulnya potensi do'a. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengatakan doa yang dipanjatkan oleh para konsumen barang haram ; "FA ANNA YUSTAJAABU LAHU",Bagaimana mungkin akan dikabulkan doanya?
Marilah sama-sama kita intropeksi diri kita masing-masing,sudahkah kita mendapatkan harta yang kita miliki dengan cara yang halal,sudahkah kita melindungi keluarga kita dari makanan-makan yang haram.semuanya kembali kepada diri kita masing-masing...Allahu 'alam.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatu....
( Ust.Abu Umar Abdillah )